Pages

Rabu, 20 April 2011

Issues:Hijab

The author of article: B. Syed, Ph D
The sources of article: www.irfi.org



(head cover) for Muslim women is not mandated in the Qur’an. If it is,
it is only the subjective interpretation of an Ayah (verse) on the part
of the reader. Hence many Islamic Scholars say that according to Hadith,
a woman should cover her whole body, except her face and hands.
Majority of the Muslims do not know in which Haidth this is mentioned. A
very limited number of Muslims know that this is in Sunan Abu Dawud.
The English translation of Sunan Abdu Dawud is in three volumes. Again
nobody ever mentions that it is in Volume Three. Actually it is in
Volume 3, Book XXVII and Chapter 1535, and Hadith number 4092, titled
“HOW MUCH BEAUTY CAN A WOMAN DISPLAY?" For the benefit of the readers
the exact Hadith is reproduced below:
(4092) ‘A’isha said: Asma’, daughter of Abu Bakr, entered upon the
Apostle of Allah (May peace be upon him) wearing thin clothes. The
Apostle of Allah (peace be upon him) turned his attention from her. He
said: O Asma’, when a woman reaches the age of menstruation, it does not
suit her that she displays her parts of body except this and this, and
he pointed to her face and hands.3523
Abu Dawud said: This is a mursal tradition (i.e. the narrator who
transmitted it from ‘A’isha is missing) Khalid b. Duraik did not see
‘A’ishah).
[3523. When a woman reaches the age of puberty, she must observe purdah
and have a thick veil which conceals her beauty. She may unveil her face
and hand up to the wrists. In modern times some scholars have
prohibited to unveil face out of precaution.]

It is very interesting to note that no one- neither the Muslim Scholars
nor the Muslim Ummah ever pointed out that this Hadith is a m u r s a l
Hadith or weak hadith, although it is imperative that when one uses a
weak Hadith for any reason then one should explain it to the people that
this is a weak Hadith. What is a mursal hadith? First of all what is
Hadith?
Hadith is an Arabic word, which in its real sense means a tale, speech,
chat, conversation or communication. In a technical sense, Hadith or
Tradition means all the sayings, deeds, decisions of Prophet Muhammad
(pbuh), and his silent approval of the behavior of his companions and
descriptions of his personality. Each Hadith is prefaced by a chain of
narrators called Al-’Isnad. Al-’Isnad was the chain of people through
whom the Hadith was transmitted. The second part of the Hadith is
Al-Matn, the content, which reports the teaching or the incident. Every
Hadith or Tradition must have a chain (‘Isnad) as well as the Text
(Matn).
There are three main categories of the Hadith called (1) As-Sahih or the
Authentic Hadith (2) Al-Hasan or the Good. Some of its narrators have
been found to have a weaker memory in comparison to the narrators of
Sahih Hadith, and (3) Ad-Da’if or the Weak. This refers to that
Tradition in which there is some problem in either the chain of
transmission, in the proper understanding of the transmitter or in its
contents, which may be in disagreement with Islamic belief and practice.


Ad-Da’if Traditions are further divided according to the degree of
problems with their reporters (ruwaat) or in the text (Al-Matn) of the
reports. A few of these divisions are as follows:
a) Al-Mursal: A Hadith in which a Tabi'i (those who succeeded the
Sahabah or companions of the Prophet (pbuh) transmits from Rasulullah
(pbuh) directly, dropping the Sahabi from the ‘Isnad.
b) Al-Munqati: A Hadith going back to the Tabi’i only.
c) Al-Mu’dal: A Hadith in which two continuous narrators are missing in
one or more places in the ‘Isnad.
d) Al-Mu’allaq: A Hadith in which one or two transmitters are omitted in
the beginning of the ‘Isnad.
In Shari’ah or Islamic Law only the authentic (sahih) and good (hasan)
Ahadith (plural of Hadith) are used in deriving the rules. The weak
(da’if) Ahadith have no value for the purpose of Shari’ah.
As stated above that Imam Abu Dawud himself said that this is a mursal
tradition (i.e. the narrator who transmitted it from ‘A’isha is
missing). What I interpret is that the narrator of this Hadith is Khalid
b. Duraik who did not see 'A'ishah (Radhi Allahu Anha (May Allah be
pleased with her)). As this is a weak Hadith, it has no value for the
purpose of Shari’ah, that means no Muslim or Islamic Republic or
government can pass laws punishing a Muslim woman who does not observe
Hijab, particularly covering the hair on their head. This is not being
practiced in the so-called Islamic countries where religious police are
threatening Muslim women who do not observe Hijab, with their canes.

I have all along maintained in my arguments that Islam emphasizes on
modesty in the dress of Muslim women, but no where it mandates the
wearing of Hijab (head cover). As a matter of fact modesty in dress is
also required on the part of the Muslim men.
In the matter of hijab, the conscience of an honest, sincere Believer
alone can be the true judge, as has been said by the Noble Prophet: "Ask
for the verdict of your conscience and discard what pricks it."
Islam cannot be properly followed without knowledge. It is a rational
law and to follow it rightly one needs to exercise reason and
understanding at every step.


Review Article of “Tradition Class” on the Title: “issues:Hijab”

Sejauh ini, persoalan tentang hijab bagi seorang wanita menjadi persoalan krusial, khususnya bagi seorang muslimah. Bagaimana tidak? Banyak orang berpendapat bahwa hijab (penutup aurat) bagi perempuan muslim tidak diamanatkan dalam Al-Quran. Jika iya, itu hanyalah sebuah interpretasi subyektif dari para pembacanya. Oleh karena itu banyak ulama islam mencari sumber lainnya melalui Al-Hadits. Al-l hadits yang menjelaskan seorang wanita harus menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan tangan.
Selanjutnya di kalangan muslim, timbullah sebuah perdebatan antara kebenaran Al-Quran dan Al Hadits. Spesifikasinya adalah Al-Hadits yang menjelaskan tentang hijab tersebut. Sebagian besar muslim tidak tahu persis posisi hadits tersebut. Posisi yang mengacu kepada tingkat status hadits. Status tertinggi adalah kesahihan. Keterbatasan orang islam mengetahui hadits tersebut hanya ada dalam Sunan Abu Daud. Terjemahan buku Sunan Abu Daud dalam 3 jilid, berbahasa inggris. Tepatnya di buku XXVII, bab 153, dan nomor hadits 4092, berjudul “Seberapa batasa batasan kecantikan yang boleh ditampakkan dari seorang wanita?.”
Dalam buku yang ditulis oleh Sunan Abu Daud di hadits 4092 diceritakan; ‘Aisyah berkata kepada Asma’, putri Abu Bakar, masih berkeluarga dengan Rasulullah, ketika ia mengenakan pakaian tipis. Rasulullah SAW mengalihkan perhatian darinya. Dia (Rasulullah SAW) berkata: ketika seorang wanita mencapai usia menstruasi, tidak pantas baginya menampilkan bagian-bagian tubuhnya kecuali ini dan ini (Beliau menunjuk wajah dan tangan Asma’) .
Pendapat Abu Daud tentang hadits di atas ialah hadits mursal. Dan hadits mursal itu sendiri adalah kategori hadits yang tidak memiliki nilai untuk tujuan syariat. Istilah lainnya, tidak ada Republik Islam atau sekelompok muslim yang berhak menghukum seorang wanita yang tidak memperhatikan hijabnya. Bagi kita, para cendekiawan muslim akan heran mendengar hadits itu tak memiliki nilai dalam syariat yang benar. Sebab sejauh ini kita tahu bahwa hijab bagi seorang wanita merupakan hal yang sangat fundamental. Kendati pun hadits itu mursal (rusak) ataupun dhaif (lemah), Al-Quran telah menjadi sumber yang kuat. Sumber atas anjuran untuk memperhatikan hijab bagi seorang wanita. Lantaran Al-Hadits hanyalah mubayyin (penjelas) dari Al-Quran.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Qs. An-nur/24:31)
Untuk membedakan apa itu hadits mursal dan sahih; pengkategorian hadits mursal dan shahih itulah yang terpenting, Kita harus mengetahui lebih jauh tentang Ulumul Hadits.
Hadits adalah bahasa arab; arti sesungguhnya ialah kisah, ucapan, percakapan atau komunikasi. Dalam pengertian terminologi, hadits atau tradisi (kebiasaan) berarti semua perkataan, perbuatan, keputusan atau persetujuan Nabi Muhammad SAW; persetujuan dengan diam tentang perilaku sahabat dan deskripsi kepribadiannya.
Sebuah hadits terdiri dari Al-Isnad dan Al-Matn. Al-Isnad adalah rantai orang-orang yang meriwayatkan, atau sandaran periwayatan. Sedangkan Al-Matn adalah redaksi hadits atau isi, yang melaporkan pengajaran atau kejadian. Setiap hadits (tradisi) harus memiliki rantai (isnad) serta teks (matan).
Pengkategorian hadits terbagi menjadi tiga bagian utama. Pertama, hadits As-Shahih (hadits autentik). Kedua, hadits Al-Hasan (hadits baik). Ketiga, hadits Ad-Da’if (hadits lemah). Hadits Ad-Da’if dibagi sesuai dengan tingkat permasalahannya. Hal ini merujuk kepada hadits di mana ada beberapa permasalahan di dalam rantai transmisi; pemahaman dari segi isinya, ketidaksinambungan sanad, perselisihan dalam kepercayaan islam dan praktik. Beberapa devisi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Al-Mursal: sebuah hadits yang ditransmisikan langsung dari Rasulullah (rusak).
2. Al-Munqati’: sebuah hadits yang kembali ke tabi’i saja (terpotong).
3. Al-Mu’dal: sebuah hadits yang dua periwayatnya tidak jelas di salah satu tempat atau lebih dalam isnad.
4. Al-Mu’allaq: sebuah hadits baik satu atau dua periwayatnya hilang di permulaan isnad.
Dalam syariat/hukum islam, hanya hadits sahih dan hasan-lah yang digunakan sebagai pedoman penentu kebenaran. Hadits dha’if tidak memiliki nilai dalam penentuan syariat/hukum islam, walaupun isi atau redaksi makna hadits tersebut mengandung kebaikan.
Kembali pada topik permasalahan tentang hijab bagi kaum wanita, khususnya seorang muslimah. Penulis artikel ini menyatakan bahwasanya kehadiran hadits tersebut berstatus mursal (periwayat yang ditransmisikan dari Aisyah hilang). Hadits yang tidak menguatkan bahwa ketidakpemerhati mereka atas hijab menyebabkan pelanggaran. Kemudian, hal tersebut juga tidak dipraktikkan di Negara-negara islam seperti halnya Saudi Arabia; tak ada perundang-undangan dalam Negaranya tentang ancaman wanita muslim yang tidak mematuhi hijab, dengan tongkat hukum mereka.
Penulis tersebut berargumen bahwa islam hanya menekankan pada kesederhanaan dalam pakaian wanita muslim, bukan pada mandat untuk mengenakan hijab, khususnya penutup kepala (jilbab); cenderung kepada kesadaran pribadi masing-masing. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Mintalah putusan hati nurani kamu dan membuang apa yang menjadi gangguan”
Berbicara mengenai argumen setiap orang tak akan ada ujung penyelesaiannya.. Penyelesaian hanya akan diperoleh dengan relativitas. Karenanya, kita membutuhkan Al-Quran sebagai solusi penyelesaian atas sebuah permasalahan dalam kehidupan. Dan tak hanya sampai di situ, penafsiran Al-Quran harus dilakukan dengan keobyektivitasan dan empirisitas. Wallahu’alam..!

Kamis, 14 April 2011

“Aku Si Agent of Change di Masa Depan”


Perkembangan teknologi mempengaruhi peradaban dunia. Peradaban yang menuntut kemajuan di segala bidang dan aspek kehidupan. Paradigma kemajuan dalam pendidikan membuktikan adanya korelasi antara perkembangan teknologi dan pembangunan pendidikan yang melahirkan peradaban dunia. Saat ini teknologi tak hanya bungkam dalam satu ruang, banyak ruang dalam ranah kehidupan yang telah dikuasainya. Begitu juga Luasnya pengetahuan yang menjalari kehidupan, ia mampu meningkatkan kualitas oknum-oknum di medan pendidikan. Tak hanya dalam segi pengetahuan umum, namun juga dalam segi pengetahuan agama. Dua hal tersebut menjadi satu kesatuan bagi seseorang dalam menjalani hidupnya. Agar tercipta keseimbangan baik moril dan materiil. Tongkat estafet adalah sebuah istilah bagi para oknum yang bergelut dalam berkembangnya peradaban. Siapakah oknum yang mampu mengubah rentetan perkembangan demi perkembangan itu? Dialah “aku Si agent of change yang berpengaruh di masa depan.”

Agent of change merupakan sebuah dimensi kesungguhan. Dimensi yang menjelma dalam jiwa dan jati diri seseorang. Seseorang yang memiliki pemikiran luas di berbagai pengetahuan. Ide dan logikanya memliki energi kuat untuk merubah yang tak bernilai menjadi berharga dan dibutuhkan. Karakter ideal yang melekat kuat dalam dirinya, sehingga membentuk pribadi yang menyertai alur peradaban dunia. Kekukuhan dan kesetiaan mengenyam beragam ilmu yang mampu menjadikannya salah satu dari sekian banyak orang, dan mampu menduduki posisi orang berpengaruh dalam kebangkitan masa.

Ilmu pengetahuan bernafas dari sebuah imaginasi. Tak ada yang lebih berharga daripada pengetahuan yang dipengaruhi oleh kualitas imaginasi seseorang. Imagination is more important than knowladge (Enstein). Sebab imaginasi akan melahirkan beragam pengetahuan. pengatahuan yang dilandasi oleh pikiran seseorang. Si agent of change mampu mewujudkan imaginasi yang beredar jauh dalam pikirannya. Imaginasi yang logis dan etis. Salah satu karakteristik yang menonjol dalam dirinya. Logikanya mendominasi ke arah amibisius dalam pencapaian menuju kesempurnaan. Misi dalam hidupnya terlaksana dari sebuah visi yang berkualitas. Visi yang mendorongnya berpikir lebih keras untuk mengeksploitasi ilmu dari berbagai sumber. Titik kulminasi dalam kecintaannya dengan ilmu pengetahuan. Kecintaan pada pengetahuan itulah berpengaruh besar dalam berkembangnya peradaban dari tingkat zero ke tingkat hero.

Aplikasi terhadap sebuah visi adalah hal yang sangat fundamental. Itulah misi yang harus teriaktualisasikan dalam menyusuri rangkaian perjalanan hidup. Sebagai Si agent of change, bagian ini termasuk kategori bagian yang sangat urgen. Bagian yang berdampak terhadap totalitas pencapaian. Peradaban yang dipolesi dengan kualitas pemikiran dan aplikasi mampu mewujudkan zaman yang beradab dan berlandaskan kisi-kisi keilmiahan. Metode sederhana dari pengaplikasian sebuah visi adalah pembauran diri ke dalam wadah kemasyarakatan. Istilah lainnya yaitu mengahdirkan sosok “aku” di sela hiruk-pikuk kehidupan sosial. Si agent of change mentotalitaskan diri untuk mengabdi sepenuhnya kepada bumi pertiwi. Kata “sepenuhnya” dalam konteks ini ialah sekuat nadi berdenyut dan secepat jantung berdetak. Sebisa mungkin yang ia bisa lakukan. Dan sesempat mungkin yang ia miliki kesempatan.

Peradaban gemilang di dunia tak terlepas dari peran kaum muda-mudi di zamannya. Hari ini banyak alibi yang mengindahkan pernyataan tersebut. Namun, suatu masa mampu membuktikan keterlibatan muda-mudi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban yang semakin beradab. Sebab peradaban tercipta dari keseimbangan antara kualitas dan kuantitas oknum-oknumnya.

Kamis, 31 Maret 2011

PERTIWIKU MENANGIS

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat dan bumi mengeluarkan segala isinya. Manusia bertanya-tanya, “”ada apa ini ?” hari itu bumi menceritakan kepada manusia tentang ihwalnya.(Al Zalzalah:1-4)





Penghujung tahun yang mengungkap banyak misteri tentang alam. Bencana alam berupa tanah longsor, tsunami, gempa , banjir bandang dan gunung merapi yang meletus adalah sebuah fenomena alam dan kita sendiri pun hanya bisa menerka-nerka apa penyebab dari semua kejadian itu. Sungguh miris dirasakan, rentang waktu yang relative singkat antara bencana yang satu dengan yang lainnya. Bisa dikatakan beruntut bahkan bergantian, menyebabkan kita terus dihantui rasa takut dan khawatir yang tak berujung.
Alam yang berkata, kita yang mengira. Segala hal yang terjadi tak kan mampu kita jangkau sebelumnya. Pikiran dan terkaan kita terhadap sesuatu yang akan datang sungguh terbatas. Walau banyak di antara manusia kita yang memiliki kemampuan pengetahuan tentang prediksi keadaan dalam bidangnya masing-masing seperti pakar geologi, geofisik, anatomi dll. Namun, semua kembali pada yang Maha Kehendak yaitu Tuhan Semesta Alam. Segala kejadian di langit maupun di bumi adalah kehendak-Nya.





Membaca Koran, mendengarkan radio dan melihat berita melalui televisi membuka mata indera dan batin kita akan gentingnya bumi Indonesia. Pertiwi yang damai dan sejahtera tak lagi tercipta. Beragam bencana datang bertubi-tubi di berbagai daerah. Tsunami di Mentawai, longsor di Wasior dan gunung merapi meletus di Jawa Tengah bahkan masih ada bencana-bencana kecil lainnya seperti kecelakaan Kereta Api yang terjadi beberapa minggu kemaren dsb, merupakan fenomena alam yang tak bisa dibilang biasa. Kalau begini, tak satu pun orang berhak untuk disalahkan. Siapa pun itu, petinggi negarakah?, pemerintah? Atau rakyat biasa penyebab dari semua? Itu salah besar. Banyak orang berasumsi bahwa semua bencana yang terjadi di bumi pertiwi adalah dampak dari pada pemerintahan petinggi Negara yang bertahta saat ini. Syakwa sangka seperti itu tidak logis. Terjadinya bencana sedikit pun tak berhubungan dengan pemerintahan. Hanya saja orang-orang melatar belakangi system pemerintahan yang kurang memuaskan dengan adanya bencana. Apalagi kemaren hari sebelum bencana menjajah negeri, banyak terjadi demonstrarsi di berbagai kalangan tentang keluhan system pemerintahan yang tidak membuahkan hasil perdamaian dalam masyarakat. Selain itu banyak pula beranggapan tentang kabar angin tentang kiamat 2012 yang dicetuskan oleh Mama Louren, seorang peramal terkenal yang lebih dulu menghadap Tuhannya.




Mari kita lihat dari sisi ilmiyah tentang adanya bencana. Bumi kita telah renta. Ahli geologi dan geofisik memperkirakan bahwa bumi kita 4,54 milyar tahun lamanya. Perkiraan ini berdasarkan cara menghitung umur dari material bebatuan. Selain itu, coba kita analogikan dengan orang tuan (buyut). Apabila seseorang telah berumur tua, organ-organ tubuh di dalamnya mulai mengalami perubahan dalam system gerak, pernafasan dll. Bahkan mungkin bisa dikatakan banyak terdapat organ-organ tua yang telah rusak. Nah… dari analogi tersebut kita bisa membayangkan tentang keadaan bumi kita yang telah berjuta-juta tahun hidupnya. Selain itu lempengan-lempengan dasar dari bumi mulai bergeser dan retak, itu salah satu penyebabnya. Kalau bencana yang berupa banjir dan tanah longsor, mungkin kita bisa menebak apa penyebab sederhananya seperti: menebang pohon-pohon dan membuangnya secara tak bersahabat, membuang sampah sembarangan, memadatkan kota dengan bangunan-bangunan dsb. Dengan kaca mata ilmiyah, semua kejadian yang terjadi bisa dikatakan logis atau diterima oleh akal.




Dalam pandangan agama pun, kita bisa mensingkronisasikan dengan keadaan yang terjadi di sekeliling kita. Namun kaca mata agama lebih bersifat abstrak. Apabila diperinci lebih detil penyebab pertama terjadinya bencana adalah karena olah manusia itu sendiri. Beberapa ayat Al Quran yang mendasari pernyataan tersebut adalah “Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian”(QS. As Syura:30). Dan ayat yang secara gamblang menjelaskan peran manusia terhadap kerusakan alam yaitu surat Ar Rum: 41: “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Mungkin kedua ayat di atas menginterpretasikan tentang perilaku atau sikap manusia dalam kehidupannya. Konkritnya adalah dosa, berbuat dzalim kepada sesama, melakukan kecurangan apa pun bentuknya, bahkan mengindahkan ajaran-ajaran agama pun termasuk dosa di dalamnya. Jadi, introspeksi diri adalah solusi terdekat dari semua itu. Kedua, yang bisa kita fahami adalah hakikat dari hidup itu sendiri. Hidup=bencana/cobaan, merupakan sunnatullah (hukum alam) yang manusia tidak berkuasa untuk mencegahnya melainkan hanya mampu mengurangi dampak yang terjadi melalui akal pikiran. Seperti pada surat Al Baqarah ayat 286 “Allah tidak akan memeberikan cobaan di luar batas kemampuannya”. Ayat lainnya Ar Ra’du:11 “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri”. Dalam hal ini, realita kehidupan memang penuh dengan ancaman dan cobaan. Tugas kita hanya berpikir dan bertindak untuk mengurangi akibat dari pada ancaman itu sendiri tanpa harus berpasrah atau fatalistic. Ketiga adalah kesyukuran kita yang mungkin Tuhan menilainya kurang bahkan tidak sama sekali. Pada surat Ibrahim ayat 7 dijelaskan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur atas (nikmat-Ku) maka aku akan menambahnya, dan apabila kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka adzabku sangat pedih”. Ayat tersebut mengajarkan kita untuk tidak sombong dan angkuh dengan apa yang kita miliki, karena hakikat dari semua itu adalah pemberian Tuhan dan akan kembali kepada pemiliknya kelak, yaitu Allah.



Di lain hal, Tuhan menyuruh pada kita untuk “membaca” lain makna adalah memahami suatu kejadian yang dinilai bukan dari satu sisi melainkan dari dimensi hal yang berbeda. Baik berupa penyebab dan akibatnya bahkan pelajaran yang bisa dipetik setelah kejadian tersebut. Pendek kata adalah membaca alam. Seperti ayat dalam surat Al Zalzalah:1-4 “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat dan bumi mengeluarkan segala isinya. Manusia bertanya-tanya, “”ada apa ini ?” hari itu bumi menceritakan kepada manusia tentang ihwalnya”. Secara jelas dipaparkan dalam ayat tersebut tentang makna implisitnya bahwa ketika realita tentang kejadian (bencana) berbicara, saat itu pulalah hal ihwal tentang sesuatu diberitahukan. Segala bencana yang terjadi merupakan simbolis dari pada media I’tibar tentang hidup yang kita jalani.
Apa yang terlihat saat ini, kita hanya bisa merenung dan mawas diri untuk lebih berbenah diri menuju kebaikan selanjutnya, menjadikan media pembelajaran tentang hidup. Pertiwi yang menangis, Indonesia yang bersedih karena alamnya. Memanggil ruh batiniyah kita untuk merelakan sedikit yang kita punya, berbagi harta dan kebahagiaan dengan orang lain. Membayangkan jikalau kita yang berada di posisi mereka, adalah hal terpahit untuk dikenyam sebelum merasakan pahit yang sebenarnya. Penawarnya hanyalah kesabaran dan lapang dada, menerima apa yang terjadi dan menjadikan kita insan yang lebih bersyukur dengan apa yang telah kita miliki tanpa ada sebiji dzarrah pun kesombongan yang menyelimuti.




Hikmah dari apa yang telah melanda negeri ini merupakan hal terpenting yang akan menjadikan kita ummatan syaahidatan. Memahami apa yang terjadi (bencana), menilainya dari berbagai dimensi yang berbeda kemudian menyimpulkannya menjadi satu kesatuan utuh penyelaras kehidupan. Apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, di mana kejadian itu dan apa yang akan kita lakukan atas kejadian itu, semua ada pada kuasa kita. karena kita hidup untuk kehidupan. Semoga tangisan pertiwi lekas sirna dan kedamaian akan cepat terasa. Semoga !.

Selasa, 22 Maret 2011

The First Semester, What I have Gotten?


ahahaaii..:D
In the name of Allah the almighty...!
I was so surprise, I cant relize that now I have stayed in the second semester of my education at collage.
many new experiences I have gotten there and I didnt get it in senior high school..
formely, when I still stayed in SHS I thought that studying of college is being a cruel study genre, but now I have felt it self.
I was smelled when I remembered the begining event of searching many university for being my place to continue my study. because so many stories that I have been passed. including a happy story or bad story also.
the type of study at college has relized me that I should force my self for improving my skill.
hmm...especially, being a student of English departement. I think that I have to study as hard as possible. my knowladge of it is still low. even when I have met with my new friends in the class. Oh...it is so curious situation for me. a lot of thm are become the master of english. and me? Nothing..!
however, it is made me try to become a confidence girl. hahaha..:D
from them I learn, Frome them I understand, from them I get so many knowledges about English.
I do love English anymore..!!!
hmmm...
the final examination of first semester made feel that I should do better for it.
I have to get a good mark even a perfect mark. in order to get a good index prestation.
hmmm...I praise of Allah for sending me A surprise thing.
I got a highest mark in the class with one of my friend.
==="3,68"=== I didnt believe that I could get a good IP
aaahghht...all is because Allah..! eventhough I have made a standart mark of my study. it is "3,50" but Allah has given me more than I asked..:)
hmmm..
now...the second semester..! I have to do better than before..!!!
I have to enlarge my knowledge.
I have to improve my skill.
and I have to do more and more as can as possible.
in the first semester I cloud get so many knowledge of english that I didnt get it when I was at senior high school...!
and the second semester, I have to do best..!!!
bismillah..!
Allah always beside me..!

Baba..Umi..and all of My family and frinds...
what I have done and what I will do is for u all..!
my proof of love to u..!

^^Diary Al Quran: kureguk kasih dari cawan cinta^^

Dinamika kehidupan tak akan terlepas dari segala macam tuntutan. Dan tuntutan yang paling urgen adalah kecapaian diri menuju ke arah yang paling baik dari sebelumnya. Seakan-akan tak ada guna hidup dikala proses kepantasan dalam kebaikan tidak kita aplikasikan dalam keseharian. Seperti sabda Rasulullah saw, apabila hari ini lebih baik dari kemarin, kita tergolong ummat yang beruntung, begitu juga sebaliknya, termasuk kategori ummat yang celaka jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Na’udhubillah min dzalik..!
Tadabbur nan tafakkur, dua kata itulah yang seharusnya dijadikan hobi. Dan terkadang kedua hal itu yang selalu dilupakan. Padahal dengan dan darinya, kita temukan sebuah kristal diri perihal perbaikan dan kesadaran. Dan tak bisa dipungkiri, bahwa kita hanya makhluk lemah, selalu ingin kuasa dalam segala namun tak mampu mengkuasakan diri dengan sempurna.
Pengalaman hidup bukanlah sebuah kebetulan yang sifanya sia-sia. Apa saja yang kita alami merupakan torehan tinta-Nya atas apa yang kita lakoni. Istilah lainnya adalah timbal balik. Kebaikan menuai kebaikan, dan keburukan menuai keburukan. Itu hukum Allah dan alam, tak ada yang bisa mengejewantahkan. Dan hakikat kita hidup adalah menuai kebaikan itu sendiri.
Tiga surat dalam Al Quran yang selalu kupoleskan dalam hari-hariku, insyaAllah. Dan ketiga surat itulah yang memberiku kebaikan, dan itu keyakinanku, menjadi perantara atas kebaikan yang Allah sembahkan untukku. Al Waqi’ah, Ar Rahman dan Al Mulk. Entah mengapa aku begitu tertarik untuk mengistiqomahkan diri membaca ketiga surat tersebut, hingga kujadikan kawan dan sahabat hari. Dan hingga saat ini, dengan izin Allah aku bisa merasakan hikmah dari padanya.





Dengan Al Waqiah yang kuusahakan membacanya di setiap fajar menjelang. Karena petuah guruku dahulu, dengan mengistiqomahkan diri mengamalkannya di setiap subuh, memudahkan kita memperoleh rezeki. Ya...aku rasakan itu. Walau rezeki tak selamanya berupa nominal, walau rezeki datangnya tak spontan pada tanganku. Namun, aku mampu merasakan kehadirannya. Melalu orang tua dan orang-orang terdekatku yang paling nyata.
Dengan Ar Rahman jua kumampu mereguk kasih sayang. Kasih sayang-Nya, kasih sayang mereka dan kasih sayang sesama. Ar Rahman, ayat yang terindah menurutku dalam Al Quran. Gaya bahasa dan sastranya yang indah, terdapat pula satu kalimat yang diulangi setiap barisnya. “fabiayyiậlậi rabbikumậ tukaddzibận”, dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?, ketika hati menelisik atas jawaban ayat tersebut, tak kuasa membendung lautan kemunafikan atas diri selama ini. Setiap detik yang terlewati, setiap menit yang dilalui merupakan bentuk nikmatNya yang aku sendiri kadang tak menyadari. Dan syukur pun tak kutumpahi. Benar-benar kurasakan kedahsyatan ayat ini. Sungguh, kasih sayang sesama yang tercurah untuk kita adalah bentuk kasih sayang Tuhan pada kita (Mario Teguh). Wise word itu yang selalu kuingat. Tatkala himpunan manusia menyayangiku dengan tulus, di situlah aku merasa bahwa Allah masih menyayangiku, bahkan lebih kelipatannya dibanding sayang seorang hamba.
Keyakinan adalah pondasi atas harapan. Al Mulk, surat yang faedahnya tak hanya dirasakan di dunia, namun lebih pada hari kemudian. Cita-cita siapa yang ingin mati dengan khusnul khatimah?, harapan siapa yang ingin terhindar dari adzab kubur?, mimpi siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam syurga?, jawabannya adalah manusia. Aku tak pernah tahu kapan ajal menjemputku, namun kapan pun dan di mana pun kesiapan atas itu harus dibangun. Surat inilah yang ingin kujadikan bekal dan perantara penolong Allah terhadapku kelak.
Dan terdapat satu surat lagi yang selalu kujadikan lagu penenang di saat aku gundah. Ia adalah hati dari pada Al Quran, Surat Yasin. Faedahnya pun terlampau banyak. Membaca dan mendengarkannya adalah ibadah. Sesungguhnya, segala ibadah akan terasa lebih nikmat kalau kita niatkan lillahi ta’ala.
Surat demi surat dalam Al Quran hakikatnya adalah pembawa keselamatan, pengiring kepada kehidupan yang pantas dan lebih baik. Pedoman yang terbukti atas keampuhannya. Jelas...!

Kamis, 10 Februari 2011

Cuap-Cuap :D

My class of literature is full of sensation :D





most of ma friends like to take picture, another word is narcissistic, they have variation of style how to picture :D






even In out of class, we never know the place for taking picture :D







not only above pictures that indicate we are so become photo holic, but also so many picture there on my file :D

Senin, 07 Februari 2011

dengan puisimu, hatiku kembali bernyanyi,terima kasih sayang !



linda morghana: "seperti riak ombak..itu Tuhan!

air mataku mengalir ke laut-MU,

sementara...

pada langit kuselipkan jemari tanganku...

semoga ada suara-MU melengking..!"


haura heaven: "aku rindu kata-kata itu sayang..!

panjang perjalananku mengejar takdir

telah lama tak lagi kuajamah tinta..

telah lama tak kucumbui kertas kosong..

aku rindu seni...

aku rindu jiwaku..!"


linda morghana: "maka risau hati kubiarkan menganga

menjadi sajak di bibir senja

pun sampai kini derai-derai ilalang tiada pernah kulupa

bahkan mesiu mesin yang menyelip di ketiak kota

sebelumnya akhirnya kau pergi

dengan mesiu mesin yang menganga..miss u so..!"


haura heaven: "kau pancing nurani untuk meluapkan kata-kataku yang telah lama kubuang

kata indah yang dulu sempat menari-nari di pelataran jiwa

kini mulai mendatangiku..

tawarkan segalanya keindahan..

seakan mengajakku, mengulang untuk mengabdikan diri pada ke-MAHA-annya

terima kasih syang,teruslah kau torehkan kata-kata indahmu

dalam cawan kasih syang"


linda morghana: "telah 3 tahun terjalin persahabatan..

kita berteman,berdebat, bertukar fikiran, bertengkar, menggunting,

menjahit dan menambal zaman

pergi ke sana dan ke mari panjang sudah perjalanan..

kaki langit ternyata jauh dalam jangkauan..

apa yang selalu sandal kita rasakan dalam injakan ???

peluh, air mata, daki, kemarau, angin dan taufan"


haura heaven: "begitu dalam arti ikatan sebuah zaman..

tarian waktu pun meramaikan pengharapan pada dinding langit

hanya mampu mengetuk semesta

semoga Sang Esa mendengar desahan panjang

nan letih si pendaki dari bibir tahun ke lelapnya mata

yang enggan membuka sampai ajal pun berharap kita dipertemukan"


20 oct '10 @ 06.30 p.m