Pages

Senin, 09 Mei 2011

Penelitian Bahasa dan Sastra dalam Kajian Keislaman


Ilmu bahasa dan dalam berbahasa tidak lepas dari logika. Ini terbukti sejak awal oleh para perumus ajaran Islam, sehingga muncullah ilmu-ilmu nahwu, balaghah dan ushul fiqh. Ilmu tersebut mengandung banyak sekali pembahasaan kebahasaan, semisal bahwa perintah pada dasarnya memberikan pengertian kewajiban dan larangan menunjukkan pengertian keharaman.
Dari sini lalu menjadi jelas bahwa penelitian yang menggunakan teks tidak dapat meninggalkan pengetahuan kebahasaan dan kesusasteraan. Penelitian kesusasteraan di Universitas Islam mestilah dikaitkan dengan keperluan untuk memahami dengan lebih baik sumber-sumber agama yang berupa teks (tertulis atau lisan). Selanjutnya akan dibicarakan perbedaan dan persamaan, dalam hakikat, antara teks suci dan karya sastra yang menjadi dasar pengembangan teori-teori literer. Pada bagian akhir dari tulisan ini akan diberikan contoh kajian kesusasteraan terhadap Al Quran yang lebih merupakan penyampaian problem daripada penyelesaian.
• Teks Suci dan Karya Sastra
Salah satu problem utama yang dihadapi oleh peneliti Muslim ketika melakukan penelitian atas teks suci adalah bagaimana memisahkan antara sikap yang tepat yang harus diambil oleh kaum Muslim kepada kitab sucinya. Dan teori-teori apa saja yang harus diterapkan dalam penelitian karya sastra terutama yang dikembangkan di Barat.
Ada dua perbedaan signifikan dalam penelitian teks suci dan karya sastra. Hal ini dianggap sebuah kepantasan dan ketidakpantasan dari kedua buah golongan. Bagi golongan Sunni: ketidakmauan mereka menerapkan kajian kesastraan (terutama yang berkaitan dengan ilmu Al-Bayan) antara lain disebabkan oleh kekhawatiran untuk melanggar batas kapantasan ini. Bagi kaum Mu’tazilah yang berpendapat bahwa Al Quran adalah makhluk dan karenanya tidak mengandung kesucian dalam bentuk bahasanya. Sehingga baginya mampu menerapkan segala teori untuk meneliti kesusasteraan dari teks Al Quran.
Salah satu keharusan dasar dari sebuah kajian ilmiah adalah memahami obyek sebaik mungkin. Ketika obyek itu berwujud karya sastra dari teks Al Quran; teori-teori kajian pengembangannya harus diperhatikan. Di setiap kajian ilmiah, pemahaman yang benar harus selalu memenuhi persyaratan kecerdasan dan rasional. Artinya; analisis dan kesimpulannya harus tertib, mengikuti alur logika, sehingga dapat dipahami oleh orang banyak dengan penalaran yang wajar. Kecacatan dalam sebuah penelitiannya harus dihindari dan diminimalisir. Penggambaran realitas dengan detil/sesuai dengan yang diamati; bahwa Al Quran adalah salah satu ajakan untuk manusia mengambil jalan kebenaran Tuhannya. Teks-teks suci baik Al Quran dan Al Hadits tidak boleh dilakukan pengubahan. Yang bisa dilakukan hanyalah pemahaman dan penangkapan pesan baru yang mungkin belum tertangkap sebelumnya. Teks-teks agama dan rumusan ajarannya semestinya dilihat lebih utama dari fungsi moral agama. Rumusan dan argumentasinya dapat berubah, namun pesan moral dari ajaran agama tidak berubah.
• Pemikiran Islam dan Ungkapan Perasaan Muslim
Melacak jejak-jejak pemikiran Islam yang tertuang dalam puisi merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah. Pasalnya, sifat dasar puisi adalah ungkapan rasa. Puisi lebih banyak menekankan pada penuangan impresi daripada pemaparan pemikiran dengan bahasa jelas dan mudah dipahami. Namun impresi tersebut mampu menghasilkan sebuah keindahan tersendiri. Dalam puisi-puisi Arab sering terjadi penyimpangan-penyimpangan dari kaidah-kaidah bahasa Arab. Hal inilah yang menambah kesulitan peneliti menangkap makna yang dimaksudkan oleh sang penyair.
Orang bahkan mengatakan bahwa puisi yang baik adalah yang mengandung banyak misteri, yang tidak menjelaskan secara tuntas, namun sebaliknya. Misteri itu memberikan peluang bagi para penikmatnya untuk melengkapi dengan imajinasinya sendiri. Puisi juga merupakan salah satu pengungkapan hal-hal yang ada dalam diri manusia, dan pemikiran adalah salah satu bagiannya. Berikut salah satu contoh puisi dari Ibnu Rawahah (penyair sekaligus panglima perang Mut’ah/630 M yang meninggal dalam perang tersebut. Untuk mengobarkan semangat pasukan kaum muslimin dalam perang itu, Ia mempergunakan puisi):
1. Di antara barisan kami ada Rasulullah yang membaca kitabnya ketika fajar kebenaran merekah dengan cemerlang.
2. Ia tunjukkan petunjuk kepada kami setelah kebutaan, maka hati kami dengan itu yakin bahwa yang dikatakannya benar adanya.
3. Di malam hari, lambungnya menjauhi tempat tidurnya sementara lambung orang-orang musyrik terasa sangat berat.
Penyair menggambarkan puisi ini tentang Rasulullah. Beliau adalah fajar pembawa kebenaran. Beliau memberikan petunjuk yang memuaskan sehingga mereka yakin bahwa yang dikatakan Beliau benar adanya. Kemudian penyair menggambarkan kebiasaan Beliau yang mereka kagumi, yakni Beliau tidak banyak tidur malam, ketika orang-orang kafir tidur nyenyak. Ini memberikan isyarat bahwa kaum muslimin pun pada waktu malam tidak banyak tidur; diperkuat dengan pernyataan pada paroh kedua bait terakhir. Yang diungkapkan penyair adalah kesannya atau isi hatinya yang berupa penghormatan, keyakinan dan kecintaannya pada Rasulullah. Maka dari itu Ia menggunakan ungkapan yang melebih-lebihkan. Pengertian fajar di sini menjadi kabur antara pecahnya kegelapan di ujung malam atau pecahnya kebatilan ketika kebenaran datang.
• Kajian Kesusasteraan Al Quran: Sebuah Contoh
Pembicaraan tentang Al Quran tidak habis-habisnya dilakukan orang, bahkan Al Quran merupakan sebuah kitab yang paling banyak dibaca saat di dunia. Selain itu pembicaraan tersebut menarik banyak orang untuk mengungkap rahasianya yang begitu luas. Rahasia di berbagai aspek di dalam kajiannya. Perhatian kepada kesusasteraan Al Quran pun banyak dilakukan orang; mengenai berbagai keunggulannya. Sebab Al Quran merupakan sebuah sumber hukum utama,moral dan teologi.
• Aspek-Aspek Kesusasteraan
Berikut adalah beberapa aspek kesusasteraan dari berbagai bidang. Aspek-aspek itu berkaitan dengan bentuk yang dilakukan karena pertimbangan waktu dan kesanggupan. Antara lain yaitu:
a. Bunyi
Sebagai karya kebahasaan yang berbentuk lisan ketika dikomunikasikan untuk pertama kali, Al Quran mengandung banyak unsur keindahan. Keindahan yang berkaitan dengan bunyi. Persamaan bunyi pada akhir ayat merupakan fenomena yang menonjol pada sebagian surat-surat yang turun di Mekkah dan Madinah. Salah satu contohnya adalah surat Al Alaq yang menjadi wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾ كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى ﴿٦﴾ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى ﴿٧﴾ إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى ﴿٨﴾ أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى ﴿٩﴾ عَبْداً إِذَا صَلَّى ﴿١٠﴾ أَرَأَيْتَ إِن كَانَ عَلَى الْهُدَى ﴿١١﴾ أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى ﴿١٢﴾ أَرَأَيْتَ إِن كَذَّبَ وَتَوَلَّى ﴿١٣﴾ أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى ﴿١٤﴾ كَلَّا لَئِن لَّمْ يَنتَهِ لَنَسْفَعاً بِالنَّاصِيَةِ ﴿١٥﴾ نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ ﴿١٦﴾ فَلْيَدْعُ نَادِيَه ﴿١٧﴾ سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ ﴿١٨﴾ كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ﴿١٩﴾
Contoh ini memberikan gambaran bagaimana Al Quran mempergunakan sajak pada akhir ayat. Menjadi persoalan memang, mengapa tidak ada keteraturan pada jumlah ayat yang mempunyai sajak sama dalam satu kelompok. Di dalam contoh ini terdapat 2 ayat dengan akhiran –aq, 2 dengan akhiran –am, 8 dengan akhiran -ậ, 4 dengan akhiran –ah dan satu dengan akhiran –ib. Ayat yang terakhir tidak dikatakan bersajak karena tidak ada kawannya.
b. Gaya bahasa
Gaya bahasa yang penting diingat adalah majaz atau perumpamaan. Salah satu contohnya dalam surat An Nur/24 ayat 35 yang menggambarkan tentang cahaya Allah dengan sangat indah dan kompleks:
“Allah adalah cahaya langit dan bumi, perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti ceruk yang didalamnya terdapat lampu. Lampu itu ada dalam kaca. Kaca itu seakan-akan bintang mutiara yang dinyalakan dengan pohon yang diberkati pohon zaitun yang tidak ke timur, tidak pula ke barat. Getahnya hampir-hampir bersinar walaupun tidak tersentuh api cahaya di atas cahaya.”
c. Cerita
Cerita-cerita banyak sekali terdapat dalam Al Quran. Muhammad Ahmad Khalafallah meneyebutkan adanya tiga warna kisah dalam Al Quran. Pertama, warna historis; untuk kisah-kisah yang berkenaan dengan tokoh-tokoh sejarah seperti para nabi dan rasul. Kedua, warna tamsil; kisah disampaikan untuk menjelaskan sesuatu; tidak penting tokohnya historis apa tidak. Ketiga, warna mitos; untuk kisah-kisah yang digunakan untuk merealisasikan tujuan ilmiah, menafsirkan fenomena eksistensial atau menjelaskan persoalan sulit bagi akal untuk menangkapnya. Unsur-unsur mistis dalam cerita-cerita seperti ini tidak menjadi tujuan, melainkan sebagai alat untuk menyampaikan pesan saja.
d. Humor
Memang agak sulit untuk menerima adanya humor dalam Al Quran, mengingat bahwa ia berasal dari Allah, sebagai petunjuk bagi manusia. Sementara itu orang memahami kehidupan yang dianjurkan oleh Al Quran adalah kehidupan yang serius, sedangkan humor memberikan kesan ketidakseriusan. Akan tetapi, kalau anggapan seperti ini disingkirkan untuk sementara, dapat ditemukan beberapa hal yang menunjukkan humor. Kisah Nabi Ibrahim dengan kaumnya merupakan salah satu contoh yang menarik untuk itu.
“Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata: "Apakah kamu tidak makan, Kenapa kamu tidak menjawab?" Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). Kemudian kaumnya datang kepadanya dengan bergegas. Ibrahim berkata: "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu ? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As Shaffat/37: 91-96)
Bisakah kita membayangkan bagaimana Nabi Ibrahim berkata, mengejek kepada patung-patung itu, “Apakah kalian tidak makan?” Lalu kita bayangkan bagaimana pula mimiknya ketika mengucapkan pertanyaan itu. Demikian juga mimik kaumnya yang mendatanginya dengan kemarahan, lalu mendengar jawaban yang membuat mereka tidak berkutik.
• Menangkap Makna Keislaman
Contoh-contoh kajian di atas dapat dilakukan dengan keasyikan yang luar biasa dan menghasilkan hal-hal baru tentang kenyataan Al Quran dan sumber-sumber lain dari agama Islam yang berbentuk karya kebahasaan. Yang menjadi persoalan kemudian adalah apa sumbangan dari kajian kesastraan dan kebahasaan seperti ini bagi pemahaman yang lebih baik terhadap karya-karyanya. Dengan kata lain, bagaimana meletakkan kajian itu dalam usaha untuk menangkap petunjuk keagamaan daripadanya?
Para ulama menafsirkan Al Quran dan Al Hadits, dorongan utamanya adalah menangkap hal-hal yang mesti dipegangi dalam kehidupan seorang muslim. Hal pertama yang mesti dikaji oleh ummat muslim adalah pendekatan kesastraan dan kebahasaan Al Quran. Apa pesan moral dari obyek Al Quran itu sendiri. Penelitian semestinya tidak berangkat dari rasa ingin tahu semata, melainkan dari persoalan nyata dalam tradisi kelimuan atau kenyataan hidup masyarakat. Dengan demikian, kajian sastra bukan hanya berarti mengungkapkan keindahan karya sastra. Melainkan menggunakan pengetahuan tentang hakikat dan tabiat kesastraan untuk menangkap pesan dan memahami relevansinya dengan keperluan masa kini.
• Hambatan
Meneliti konteks kajian kesusasteraan atau kebahasan dalam Al Quran tidaklah mudah. Salah satu hambatannya adalah: hambatan psikologis yang berupa rasa takut atau ketidakpantasan untuk memperlakukan teks suci sebagai obyek kajian teori dan metode. Untuk mengatasi hambatan ini dengan penelitian secara ilmiah; atas dasar kesungguhan, kejujuran dan dapat dipertanggung jawabkan. Hambatan lainnya berasal dari pengawasan; tokoh agama yang sangat curiga kepada kajian ilmiah karena dianggap akan merugikan agama. Cara mengatasinya yaitu dengan sikap taktis; tidak menyampaikan hasil kajian kepada masyarakat begitu penelitian selesai, melainkan menunggu sampai keadaan cukup matang untuk menerima perubahan.
• Penutup
Orang belum dapat disebut tahu benar tentang Al Quran, sampai ia melihat banyak wajah darinya; keindahan bahasa dan ketinggian nilai kandungannya merupakan salah satu wajah darinya. Dan masih banyak lagi wajah-wajah Al Quran.
Idealnya, pandangan agama dan temuan pengetahuan dapat digabungkan atau setidak-tidaknya tidak berbenturan. Ketika ilmu pengetahuan menemukan kenyataan bahwa bumi itu bulat, sementara Al Quran menyebutkan bahwa bumi itu datar, dan orang beriman akan mengalami kesulitan atas kebenaran kedua pernyataan tersebut. Dalam kasus ini dapat diajukan pemahaman bahwa bumi itu memang berbentuk bulat, tetapi dalam perasaan manusia itu datar; tetapi tidak selamanya demikian. Ada banyak kasus-kasus lain yang memerlukan banyak penjelasan dan argumen, sehingga diperoleh kesesuaian antara rumusan agama dan temuan pengetahuan di dalamnya.

0 komentar:

Poskan Komentar